Home » Pendidikan, Sekolah

MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH

5 March 2009 No Comment Kontributor : g.gunawan

daduKetika di dalam sekolah terdapat ketidakadilan, aturan sekolah kehilangan wibawa terlebih jika terhadap aturan sekolah terjadi inkonsistensi dalam hal penerapan.

Yanto, pelajar kelas 3 SMA di salah satu sekolah swasta di Bandung pulang ke rumah pagi itu dengan raut muka yang agak jengkel. Ketika ditanya oleh ibunya, dengan raut muka cemberut dan penuh kesal ia menjawab, “Pintu gerbang sekolah sudah ditutup, padahal baru telat 2 menit. Satpam tidak mau membukakan pintu. Tapi pada saat yang sama, Aku melihat Pak Guru yang telat lebih 5 menit dariku tetap dibukakan pintu oleh satpam,” ujar Yanto dengan nada jengkel.

Situasi ironis lain sering kita temukan ketika siswa dilarang merokok di sekolah dan siswa yang ketahuan mendapat hukuman berat. Namun, di tempat yang sama tidak sedikit guru memperlihatkan “kenikmatan merokok” di hadapan para siswanya.

Padahal ketika di sekolah terdapat ketidakadilan, aturan sekolah akan kehilangan wibawa, terlebih jika terhadap aturan sekolah terjadi inkonsistensi dalam hal penerapan.

Penegakan disiplin di sekolah tidak hanya berkaitan dengan masalah seputar kehadiran atau tidak, terlambat atau tidak. Hal itu lebih mengacu pada pembentukan sebuah lingkungan yang di dalamnya ada aturan bersama yang dihormati, dan siapa pun yang melanggar mesti berani mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Setiap pelanggaran atas kepentingan umum di dalam sekolah mesti diganjar dengan hukuman yang mendidik sehingga siswa mampu memahami bahwa nilai disiplin itu bukanlah bernilai demi disiplinnya itu sendiri, melainkan demi tujuan lain yang lebih luas, yaitu demi stabilitas dan kedamaian hidup bersama.

Disiplin sekolah, menurut F.W. Foerster, merupakan keseluruhan ukuran bagi tindakan-tindakan yang menjamin kondisi-kondisi moral yang diperlukan, sehingga proses pendidikan berjalan lancar dan tidak terganggu. Adanya kedisiplinan dapat menjadi semacam tindakan preventif dan menyingkirkan hal-hal yang membahayakan hidup kalangan pelajar.

Sementara itu, Komensky menggambarkan pentingnya kedisiplinan di sekolah dengan mengungkapkan, “Sekolah tanpa kedisiplinan adalah seperti kincir tanpa air.”

Paling tidak ada tiga tujuan yang berkaitan dengan kedisiplinan ini. Pertama, kedisiplinan mesti diterapkan tanpa menunjukkan kelemahan, tanpa menunjukkan amarah dan kebencian. Bahkan kalau perlu dengan kelembutan agar para pelanggar kedisiplinan menyadari bahwa disiplin itu diterapkan demi kebaikan dan kemajuan dirinya.

Kedua, kedisiplinan mesti diterapkan secara tegas, adil dan konsisten. Aturan disiplin diterapkan tanpa pandang bulu dan berlaku bagi masyarakat sekolah. Ketidakadilan dan inkonsistensi dalam menegakkan disiplin hanya akan membuat ketidakjelasan dan kebingungan bagi siswa serta hilangnya kewibawaan dan kepercayaan semua pihak terhadap sekolah. Ketiga, ketika kedisiplinan mulai menampakkan pertumbuhannya, sama seperti biji tanaman yang baru tumbuh, benih itu mesti dijaga dan dirawat dengan penuh kesabaran. Sebaiknya hindari menggunakan ancaman-ancaman dan kekerasan karena hal itu hanya akan menjadi panasnya terik matahari yang akan menghanguskan benih yang sedang tumbuh itu. Perlu dipakai cara-cara yang selaras dengan perkembangan dan kebutuhan siswa sehingga mereka semakin jatuh cinta pada kegiatan belajar.

Dengan cara ini, kedisiplinan yang merupakan locus educationis (momen pendidikan) akan disadari oleh semua pihak di sekolah. Dari situlah setiap individu di dalam lembaga pendidikan itu belajar hidup bersama dan belajar mengasah kepekaan moral mereka.***

Penulis, guru matematika SMA KP Cicalengka dan SMA Bina Muda Cicalengka.

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Kamis 18 Desember 2008 (Oleh Rani Pardini)

Related posts: