Home » Profil Warga

KH Abdul Wajin, Sebarkan Islam Sampai ke Nusantara

31 August 2010 No Comment Kontributor : g.gunawan

KH Abdul Wajin  merupakan pimpinan Pondok pesantren atau padepokan Al Hikmatujjin. Kiprahnya di Kabupaten Cianjur, selalu mengsyiarkan agama Islam. Selain itu, ia juga  merupakan  ahli syairat ilmu bathin dan bantuan ilmu ghaib.

DENI ABDUL KHOLIK, Cianjur

SEBELUM Mendirikan pondok pesantren Al Hikmatujjin, orangtua KH Abdul Wajjin, yaitu KH Mursalim terlebih dahulu menimba ilmu   ke pondok pesantren Gentur di Warungkondang sekitar tahun 1950 lalu. Kala itu, ponpes di sana dipimpin, KH Mama Satibi. Setelah lama menimba ilmu agama di ponpes tersebut,  ia lalu menikahi Hj Ijjoh.

Istrinya tersebut, merupakan orang kaya. Karena kekayaannya itu, sebagian hartanya untuk kepentingan umat.Yaitu membuat pondok pesantren, tepatnya di Kampung Duren, Desa Mulyasari, Kecamatan Cilaku, Cianjur sampai saat ini. KH Mursalim, santrinya  sekitar 1600 orang. Sedangkan pondok pesantrennya bernama Ponpes Al  Mursalim. Nama ini diambil dari nama pendiri ponpes sendiri Setelah KH Mursalim meninggal dunia. Kemudian, diteruskan oleh putra satu-satunya bernama KH Abdul Wajin.  Lalu penyebaran agama Islam diperluas lagi sampai ke nusantara. Meski mengurus pondok pesantren. Tetapi KH Abdul Wajin tidak lepas dari pemerintahan desa. Ia sangat aktif membangun pemerintahan dan membina umat Islam.

“Kala itu, penyebaran agama Islam lebih luas lagi, sampai ke pelosok nusantara. Meski begitu, KH Abdul Wajin, bisa menyempatkan diri aktif di pemerintahan desa,” kata Abah Haji Jin, putra ketiga, KH Abdul Wajin.

Lalu, kepribadian KH Abdul Wajin merupakan ahli amal. Ia selalu mengamalkan yasin fadilah setiap hari sebanyak 12 kali. Dan setiap saat selalu zikir atau terus mengingat kepada Allah SWT. “Amalan-amalan tersebut, kini diteruskan oleh para putranya dan para jamaah,” ujarnya. Kemudian, alm meninggal dunia pada tanggal 4 Mei tahun 2008 lalu atau Sabtu malam minggu. Sedangkan lahirnya juga sama yakni pada tanggal 4 Mei tahun 1932 Sabtu malam minggu juga. Sedangkan yang membedakannya yakni tahun kelahirannya saja.  Kini ponpes itu, diganti namanya yakni Al Hikmatujjin. Nama tersebut, diambil dari nama belakang, alm KH Abdul Wajin, dengan maksud untuk terus mengenang jasa-jasanya selama mengabdikan diri kepada agama Islam.(**)

sumber: radarsukabumi

Related posts: