Home » Kesehatan

2.347 Balita Gizi Buruk

7 February 2012 No Comment Kontributor : g.gunawan

Penderita gizi buruk di Cianjur mencapai ribuan balita. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur mencatat sudah 2.437 balita suspect gizi buruk. Itu tersebar di 15 kecamatan.

Dari jumlah tersebut sekitar 376 balita membutuhkan prioritas penanganan kesehatan. Kasi Gizi Masyarakat pada Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Sutaryanto membenarkan hal tersebut. Dirinya menyebutkan, jumlah tersebut merupakan akumulasi kasus yang masuk selama 2011, baik data dari rumah sakit maupun puskesmas di wilayah Kabupaten Cianjur.

“Jumlah ini meningkat dibanding 2010 lalu, sekitar 0,03 persen,” ujarnya, saat ditemui di Ruang Sekertaris Dinkes Cianjur Niswan Purwenti.
Pihaknya mengatakan, jumlah penderita gizi buruk yang membutuhkan prioritas penanganan khusus tersebar di 15 kecamatan. Oleh karenanya, penanganan yang dilakukannya dengan melibatkan puskesmas setempat serta para kader posyandu.

“Kalau di mana-dimana lokasinya, saya lupa. Tapi yang jelas tersebar di 15 kecamatan. Sementara langkah penanganan yang kita lakukan, dengan pemantauan atau pengawasan selama 90 hari berturut-turut, mulai dari pola makan hingga pola asuh orangtuanya,” tuturnya. Dirinya mengaku, untuk memenuhi kebutuhan asupan makanan tambahan bagi para penderita gizi buruk, pihaknya mengalokasikan dana sekitar Rp17 juta pertahunnya.

Ditambah dengan bantuan dana dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) sekitar Rp6 juta. Akan tetapi, alokasi dana tersebut tak mencukupi kebutuhan yang ada. “Seharusnya, kalau merujuk pada peraturan kemenkes, satu penderita gizi buruk harus diperlakukan seperti KLB. Kalau melihat dari anggaran yang ada, belum sampai ke tahap seperti itu, masih jauh dari ideal,” ungkapnya.

Ditambahkan Sutaryanto, selain melalui program PMT, pihaknya saat ini tengah menjalankan program baru dalam penanganan penderita gizi buruk. Yakni dengan program positif penyimpangan, dalam artian, bagaimana caranya meski latar belakang keluarga tak mampu atau miskin, tapi memiliki anak yang sehat atau cukup gizi. “Tentunya, hal ini merujuk pada pola asuh orangtua. Karena berdasarkan survei yang ada, persoalan ekonomi masih yang tertinggi sebagai penyebab munculnya gizi buruk. Untuk itu, kami menyiapkan petugas puskesmas maupun kader posyandu untuk ikutserta dalam menyukseskan program ini, agar angka penderita gizi buruk menurun,” pungkasnya.(zul)

sumber: radarcianjur

Related posts: