Home » Peristiwa

Ada Harta Karun di Gunung Padang?

24 May 2012 No Comment Kontributor : g.gunawan

Kontroversi proses ekskavasi Situs Megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti, Campaka Cianjur, sejumlah warga berspekulasi, jika di lokasi situs yang dibangun di masa prasejarah tersebut bisa saja ada bangunan dan terdapat harta karun terpendam.

Pasalnya, pada pengeboran pertama oleh para akhi geologi dan budaya Kementerian Pendidikan Nasional, diketahui jika di bawah pundak ke empat situs terdapat ruangan yang kedap suara. Hal itu seperti dilakukan para budayawan yang menolak pengeboran tanpa ada izin warga sekitar dan masyarakat Cianjur beberapa waktu lalu.

 ”Coba anda dengarkan suara pada lubang sisa pengeboran, jika dimasukan benda padat seperti batu maka ada suara menggema dari dalam lubang, seperti ada sebuah ruangan di dalamnya,” kata Eko Wiwid aktivis lingkungan yang mengkritisi soal ekskavasi situs tersebut kepada wartawan, Rabu, (23/5).

Menurutnya, pengeboran yang sporadis tanpa mengindahkan aturan dan tata cara adat istiadat akan sangat berbahaya. Pasalnya, di lokasi situs masih dianggap rawan bencana.
“Kalau seperti ini sangat berbahaya bisa saja jadi longsor, karena dibongkar paksa,” terangnya.

Ekskavasi lanjutan juga disesalkan sejumlah pengamat sosial dan politik Cianjur Ujang Yusup. Menurutnya, dengan mau turunya Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) Andi Arief diduga ada hal menarik dari keberadaan situs Gunung Padang, tidak hanya sebatas melakukan penelitian untuk mitigasi bencana di sekitar situs.

”Ya bisa saja ada hal menarik seperti ada dugaan harta karun di bawah situs berundak, karena anehnya Andi Arief, yang jelas-jelas sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana mau-maunya terjun langsung dan menjelaskan tentang rencana ekskavasi situs. Yang aneh lagi ibu negara Ani Yudhoyono akan segera mengunjungi lokasi dan telah mendapat restu dari Presiden SBY,” terang Yusup.

Sekadar diketahui, telah dibentuk Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang. Tim terpadu yang terdiri dari arkeolog, sejarawan, filolog, geolog, dan sejumlah ahli ini terdiri dari 30 orang dengan berbagai latar belakang. Andi Arief bersama rektor UI Gumilar Sumantri dan ahli lainnya duduk sebagai tim pengarah. Sedangkan untuk tim teknis, dikomandoi oleh Arkeolog UI Ali Akbar dan Danny Hilman untuk urusan geologi.

Sementara itu, jika menengok berbagai literatur keberadaan situs Megalitik Gunung Padang sebenarnya sudah ditemukan sejak lama. Meski baru buming ketika muncul isu ada piramida besar di situs itu. Situs ini ditemukan pertama kali oleh warga Belanda bernama NJ Krom pada 1914. Namun, Pemkab Cianjur baru melakukan konservasi pada 1979.

Setelah ditemukan NJ Krom pada 1914, pemerintah Belanda sebenarnya sempat mencatat situs megalitikum ini. Namun, Belanda hanya mencatat tanpa ada tindak lanjutnya. Pada tahun 1979 ada tiga perwakilan warga setempat yang melaporkan temuan tersebut dan selanjutnya dikonservasi oleh pemerintah.

Kini, situs megalitikum ini menjadi perbincangan hangat di kalangan arkeolog, karena diduga menyimpan misteri piramida di bawahnya. Situs megalitik Gunung Padang berupa struktur punden berundak yang tersusun rapi dari batuan andesit. Lokasi situs berada di perbukitan yang dikelilingi gunung-gunung.

Menaiki puncak gunung, pengunjung diberikan dua pilihan rute tangga untuk mendakinya. Tangga pertama merupakan tangga asli dan satu kesatuan dari konstruksi punden berundak. Kontur pendakian akan sedikit menguras tenaga karena tingkat kecuramannya. Jumlah anak tangga yang harus dilalui adalah 378.

Di rute ini pengunjung akan melihat susunan anak tangga berukuran 1,5 meter dan tinggi sekitar 25 sampai 30 centimer. Susunan batu terlihat melintang dan diapit oleh batuan lainnya di kiri kanan anak tangga. Diduga susunan kiri kanan anak tangga sebagai penahan longsoran bila sewaktu-waktu terjadi aktivitas pergerakan tanah di kawasan tersebut.

Secara letak, gunung ini dikelilingi gunung dan perbukitan. Di bagian utara terlihat hamparan kemegahan Gunung Gede. Di bagian barat terdapat Gunung Karuhun dan Pasir Emped. Selatan terdapat Gunung Malati, di timur terdapar Gunung Pasir Malang. Bila mencapai puncak, terdapat lima teras yang terhampar di puncaknya.

Arkeolog UI, Ali Akbar, yang turut serta meneliti situs ini menuturkan pihaknya belum bisa memprediksi usia batuan yang ada di situs ini. Namun dia menduga situs ini sudah ada sejak zaman pra sejarah.(*/nag)

sumber: radarcianjur

Related posts: